Sarasa AlitMinggu(22/02) Eksistensi Karinding di Majalengka memang masih terasa kurang, namun itu menjadi satu hal yang mendorong “Karinding Sarasa” untuk terus berkarya dan menyebarkan “Virus” Karinding ke setiap penjuru Majalengka. Hal tersebut terbukti dengan beberapa kali Karinding Sarasa tampil di luar Desa Majasuka yang salah satunya adalah penampilan di Paralayang Majalengka Minggu 22 Februari 2015. Berawal dari tawaran rekan Budayawan Majalengka untuk mengisi acara di acara Ngaguar Tutungkusan Karuhun yang bertempat di Paralayang Majalengka.

Acara yang dimulai dari pukul 10.00 WIB ini cukup memikat perhatian pengunjung Paralayang. Terbukti ketika Karinding Sarasa Alit memulai acara dengan lagu Tokecang dan Priangan pengunjung mulai berkumpul untuk menyaksikan penampilan mereka. Yang unik dari Karinding Sarasa Alit adalah para pemainnya yang masih sangat muda, masih bersekokal dasar dan rata-rata berumur 11 tahun. Diharapkan dengan adanya pemain karinding “Cilik” ini bisa membuat perhatian masyarakat terhadap Seni Budaya Lokal untuk terus di lestarikan.

Karinding Sarasa

Karinding Sarasa
Tidak mau kalah dengan juniornya, Karinding Sarasa mencoba membuat sebuah penampilan yang bisa membuat perhatian pengunjung terus bertambah. Salah satunya lewat Rajah yang dibawakan oleh mereka mengundang rasa penasaran pengunjung tentang “Ritual Rajah” yang dibawakan dengan diiringi musik Karinding. Penampilan kedua tidak kalah bagusnya, mereka mengkolaborasikan Musik Etnik dengan lagu Modern berlirik bahasa Indonesia lewat Lagu Bongkar dari Iwan Fals. Pengunjung yang sudah tidak asing dengan lagu tersebut ikut bernyanyi dan terbawa suasana oleh pukulan karinding dari grup Karinding Sarasa. Penampilan yang ketiga sekaligus penutup, Karinding Sarasa memberika kejutan dengan mengkolaborasikan Instrumen Karinding dengan Seni Teater dari Paguyuban Rangrang Patali. Penampilan tersebut membuat penonton benar-benar terkejut, pasalnya tidak ada yang tahu tentang konsep teatrikal tersebut selain grup Karinding Sarasa. Penampilan di paralayang ditutup dengan pesan dari salah satu Budayawan Majalengka, bahwa kita harus terus menjaga dan melestarikan Budaya Lokal sebagai Identitas bangsa Indonesia.(ZA)

Sumber : Desa Majasuka

Share Button